Mengisahkan perjuangan Alif Fikri melanjutkan studi dan merantau. Berbekal mantra kesabaran "Man Shabara Zhafira" dan kerja keras, Alif menaklukkan rintangan ekonomi dan akademis, membawanya kuliah di Bandung hingga ke Kanada.
Perjuangan hidup inspiratif dari berbagai tokoh yang menghadapi keterbatasan fisik, finansial, dan lingkungan, seperti Rina Shu yang lumpuh namun berhasil menerbitkan novel, atau cerita anak-anak perantau yang berjuang keras di sekolah berasrama untuk meraih mimpi, menekankan prinsip man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil)
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. K…